Barang Siapa Yang Mengenal Dirinya, Pasti Ia Akan Mengenal Tuhannya

Sebagaimana yang diketahui, bahwa anutan Ahwal (suatu perolehan dengan kurnia) dan maqamat (suatu perolehan dengan usaha) yang semuanya itu ditujukan untuk memperbaiki akhlak. Sedang tujuan perbaiki budbahasa ialah untuk membersihkan qalbu yang berarti mengosongkan dari sifat sifat yang tercela (TAKHALLI) kemudian mengisinya dengan sifat sifat yang terpuji (TAHALLI) yang selanjutnya beroleh kenyataan Tuhan (TAJALLI).

Dengan demikian maka dapatlah difahami bahwa jalan untuk mengenal ALLAH ,tidak sanggup ditempuh dengan sekaligus,tetapi ialah sesuai dengan peribadi masing masing, yaitu harus ditempuh secara bertingkat. Pada tingkat untuk memasuki Ilmu Hakekat dan Ilmu Ma'rifat, berarti memasuki suatu jalan pengetahuan yang mempunyai tujuan untuk mengenal sesuatu itu dengan cara bersungguh sungguh, bahwa siapakah insan itu, siapakah yang menjadikannya dan siapakah yang membuat semua itu. Ilmu Tasawwuf meringkaskan jalan pengetahuan ini dengan berdasar sabda Rasulullah SAW yang bermaksud "Barang siapa yang mengenal dirinya, pasti beliau akan mengenal Tuhannya."

MENGENAL DIRI SENDIRI

 yang semuanya itu ditujukan untuk memperbaiki budbahasa Barang siapa yang mengenal dirinya, pasti beliau akan mengenal TuhannyaLangkah pertama untuk mengenal diri sendiri ialah dengan mengetahui bahwa diri itu tersusun dari bentuk-bentuk lahir (yang disebut tubuh atau jasad) dan bentuk-bentuk bathin (yang disebut qalbu atau jiwa). Yang dimaksudkan dengan Qalbu itu bukanlah yang berupa segumpal daging yang berada disebelah kiri tubuh di bawah susu (yang dikatakan jantung). Tetapi dialah Roh suci dan kuat di dalam tubuh dan dialah yang mengatur jasmani dan segenap anggota badan. Dialah Hakikat Insan Allah (yang dinamakan diri yang bahu-membahu diri). Dialah yang bertanggung jawab dan dialah yang dipuji atau disiksa oleh Allah SWT.

Untuk meneliti dan mengenal diri sendiri itu, maka jasad sanggup dimisalkan sebagai suatu kerajaan. Dan roh sebagai Rajanya yang berkuasa dan dialah yang mengatur jasmani. Jasmani ialah sebagai suatu Kerajaan dalam bentuk Alamuasyahadah atau Alam Nyata. Seluruh tubuh jasmani akan hancur binasa sehabis mati, tetapi hakikat Roh dan jiwa tak akan mati, beliau tetap tinggal dalam Ilmu Allah. Dan Rohani / Jiwa ialah sebagai Raja dalam bentuk Alam Ghaib, maksudnya bahwa Roh / Jiwa itu ialah ghaib, keadaannya tidak terpisah-pisah, tidak terbatas oleh waktu dan ruang, tidak tentu tempatnya dalam sesuatu bahagian tubuh, oleh kerana itu maka setiap insan ialah adalah pemerintah di atas kerajaan kecil didalam dirinya sendiri. Sungguh benar sekali istilah yang menyebutkan bahwa "Manusia itu ialah mikromos" atau dunia kecil dalam dirinya sendiri.

Sebahagian orang beropini bahwa hakekat Qalbu atau Roh itu sanggup dicapai dengan cara memejamkan kedua matanya serta melupakan segala yang ada di sekitarnya, kecuali peribadinya. Dengan cara begitu akan sanggup juga kilauan dari alam infinit kepada peribadinya (dalam mengenal dirinya). Tetapi bagaimanapun juga segala pertanyaan yang mendalam mengenai hakikat Roh yang sesungguhnya, ialah tidak diizinkan oleh Allah Yang Maha Esa. Didalam Quran, Allah berfirman: "Mereka itu bertanya kepada Engkau Muhammad, mengenai Roh, katakanlah bahwa Roh itu urusan Tuhanku, tidak kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit saja" .(S. Isra 85) . Apabila seseorang bertafakur atas dirinya sendiri, maka beliau akan sanggup mengetahui bahwa dirinya itu pada masa dahulunya, "tidaknya pernah ada". Firman Allah: "Tidaklah insan itu ingat bahwa kami menjadikannya dahulunya sedang beliau belum ada suatu apapun". Kemudian insan itu akan mengetahui bahwa beliau bahu-membahu dijadikan dari setetes air (mani) yang tidak mempunyai nalar sedikitpun, tidak mempunyai pendengaran, penglihatan, kaki, tangan, kepala dan sebagainya. Dari sinilah insan akan mengetahui dengan jelas dan nyata, bahwa tingkat kesempurnaan yang beliau sanggup capai bukanlah beliau yang membuatnya, kerana sehelai rambut pun insan itu tak akan sanggup membuatnya.

Dengan jalan memikirkan hal itu diatas maka insan itu sanggup menemukan dirinya di dalam insiden yang sangat kecil jika dibandingkan dengan Kekuasaan dan Kasih-Sayangnya Tuhan yang menjadikannya. Dan apabila insan itu berfikir jauh maka ternyata didalam kehidupan beliau memerlukan aneka macam macam keperluan ibarat makanan, pakaian, perumahan dan sebagainya ,yang kesemuanya itu telah tersedia lengkap di dalam muka bumi ini. Disini insan akan menjadi sedar akan sifat Rahman dan Rahimnya Allah yang begitu besar dan luasnya. Demikianlah alam dunia yang diciptakan Allah penuh dengan keajaiban keajaiban. Rangka jasad ialah bukti Kekuasaan dan KebijaksanaanNya dan penuh pula dengan berbagai-bagai alat kelengkapan yang dibuatNya sebagai tanda Kasih Sayang-Nya, pada keperluan hidup manusia, maka oleh kerana itu insan akan mengetahui bahwa Allah itu "ADA". Oleh kerana itu benar-benar bahwa dengan penelitian dan pengenalan diri sendiri akan menjadi kunci bagi pengenalan Allah Swt.

MENGENAL ALLAH

Bagian penting dalam mengenal ALLAH, datangnya dari segala perbuatan kita dalam mempelajari dan meneliti serta memikirkan diri sendiri, yang memperlihatkan kepada kita kekuatan, kepandaian dan menyayangi ciptaanNya. Sifat-sifat manusia, bukan hanya menjadi citra dari sifat-sifat ALLAH, tetapi juga ragam adanya jiwa insan membawa keinsafan kepada pengertian adanya ALLAH. Maksudnya bahwa keduanya (ALLAH dan ROH) ialah ghaib, tidak terpisah, tidak terbilang, tidak berupa, tidak berbentuk, tidak berwarna dan tidak berukuran.

Manusia memperoleh kesukaran dalam mendapatkan citra itu, Tetapi kesukaran-kesukaran itu bahu-membahu dirasakan oleh fikiran kita setiap masa ibarat perasaan marah, sakit, besar hati dan cinta. Hal ini ialah faham fikiran dan tidak sanggup diketahui oleh nalar insan kerana disebebkan oleh bentuk-dan ukurannya. Seperti halnya, indera pendengaran tidak sanggup mengenal warna, mata tidak sanggup mengenal bunyi dan begitu pula dalam mengertikan kenyataan kenyataan pokok yakni Tuhan dan Roh, Kita sendiri hanya sanggup hingga pada batas batas yang sanggup dicapai oleh nalar fikiran dan selebihnya nalar fikiran kita tidak sanggup lagi memikirkannya sebegitu jauh. Betapapun juga, kita sanggup melihat bahwa ALLAH itulah yang mengatur alam semesta dan Ia ialah tidak mengenal ruang dan waktu, tidak mengenal bentuk dan ukuran, yang memerintah segenap masalah demikian keadaannya. Sebagaimana yang telah diuraikan, "ROH" tidak mempunyai kawasan tertentu di dalam tubuh, tidak terpisah pisah, tidak mengenal bentuk dan ukuran tetapi beliau memerintah "JASAD". Demikianlah ALLAH, tidak mengenal ruang dan masa, tidak mengenal bentuk dan ukuran tetapi DIA memerintah Alam Semesta. Itulah Tuhan Yang Esa, Maha Kuasa, Maha Besar dan Maha Agung.


Demikianlah antara lain terjemahan dari kitab "KimyauSaadah" (Al Ghazali).
Sumber : dakwah-ul-islam.blogspot.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel