Penyebab Kemajuan Dan Kemunduran Peradaban Islam Masa Dinasty Syafawi

Kemajuan Peradaban Islam Masa Syafawi.
Kondisi kerajaan Syafawi yang memprihatinkan itu gres bisa diatasi sesudah raja Syafawi kelima, Abbas I naik tahta (1588-1628 M). Langkah-langkah yang ditempuh oleh Abbas I dalam rangka memulihkan kerajaan Syafawi adalah:

a. Berusaha menghilangkan dominasi pasukan Qizilbash dengan cara membentuk pasukan gres yang berasal dari budak-budak dan tawanan perang bangsa Georgia, Armenia dan Sircassia.

b. Mengadakan perjanjian hening dengan Turki Usmani dengan jalan menyerahkan wilayah Azerbaijan, Georgia, dan disamping itu Abbas berjanji tidak akan menghina tiga Khalifah pertama dalam Islam (Abu Bakar, Umar dan Usman) dalam khutbah khutbah Jum’at. Sebagai jaminan atas syarat itu, Abbas menyerahkan saudara sepupunya Haidar Mirza sebagai sandera di Istambul.

Masa kekuasaan Abbas I merupakan puncak kejayaan kerajaan Syafawi. Ia berhasil mengatasi gejolak politik dalam negeri yang mengganggu stabilitas negara dan sekaligus berhasil merebut kembali beberapa wilayah kekuasaan yang pernah direbut oleh kerajaan lain ibarat Tabriz, Sirwan dan sebagainya yang sebelumnya lepas direbut oleh kerajaan Usmani.

Kemajuan yang dicapai kerajaan Syafawi tidak hanya terbatas di bidang politik, melainkan bidang lainnya juga mangalami kemajuan. Kemajuan-kemajaun itu antara lain :

a. Bidang Ekonomi.
Kemajuan ekonomi pada masa itu bermula dengan penguasaan atas kepulauan Hurmuz dan pelabuhan Gumrun yang diubah menjadi Bandar Abbas. Dengan demikian Syafawiyah menguasai jalur perdagangan antara Barat dan Timur. Di samping sektor perdagangan, Syafawiyah juga mengalami kemajuan dalam bidang pertanian, terutama hasil pertanian dari tempat Bulan Sabit yang sangat subur (Fertille Crescent).

b. Bidang Ilmu Pengatahuan.
Sepanjang sejarah Islam Persia dikenal sebagai bangsa yang telah berperadaban tinggi dan berjasa berbagi ilmu pengetahuan. Oleh lantaran itu, sejumlah ilmuan yang selalu hadir di majlisistana yaitu Baha al-Dina al-Syaerazi, generalis ilmu pengetahuan, Sadar alDin al-Syaerazi, filosof, dan Muhammad al-Baqir Ibn Muhammad Damad, filosof, andal sejarah, teolog dan seorang yang pernah mengadakan observasi wacana kehidupan lebah.

c. Bidang Pembangunan Fisik dan Seni.
Kemajuan bidang seni arsitektur ditandai dengan berdirinya sejumlah bangunan megah yang memperindah Isfahan sebagai ibu kota kerajaan ini. Sejumlah masjid, sekolah, rumah sakit, jembatan yang memanjang diatas Zende Rud dan Istana Chihil Sutun. Kota Isfahan juga diperindah dengan kebun wisata yang tertata apik. Ketika Abbas I wafat, di Isfahan terdapat sejumlah 162 masjid, 48 akademi, 1802 penginapan dan 273 pemandian umum. Unsur lainnya terlihat dalam bentuk kerajinan tangan, keramik, permadani dan benda seni lainnya.

Kemunduran Peradaban Islam masa Syafawi.

Sepeninggal Abbas I, Kerajaan Syafawi berturut-turut diperintah oleh enam raja, yaitu Safi Mirza (1628-1642 M), Abbas II (1642-1667 M), Sulaiman (1667- 1694 M), Husein (1694- 1722 M), Tahmasp II (1722-1732 M) dan Abbas III (1733- 1736 M). Pada masa raja-raja tersebut kondisi kerajaan Syafawi tidak menawarkan grafik naik dan berkembang, tetapi justru menunjukkan kemunduran yang karenanya membawa kepada kehancuran. Raja Safi Mirza (cucu Abbas I) juga menjadi penyebab kemunduran Syafawi lantaran beliau seorang raja yang lemah dan sangat kejam terhadap pembesar-pembesar kerajaan. Di lain sisi beliau juga seorang pencemburu yang karenanya menjadikan mundurnya kemajuan-kemajuan yang telah diperoleh dalam pemerintahan sebelumnya (Abbas I).

Kota Qandahar lepas dari kekuasaan kerajaan Syafawi, diduduki oleh kerajaan Mughal yang dikala itu diperintah oleh Sultan Syah Jehan, sementara Baghdad direbut oleh kerajaan Usmani. Abbas II ialah raja yang suka minum-minuman keras sehingga ia jatuh sakit dan meninggal. Sebagaimana Abbas II, Sulaiman juga seorang pemabuk. Ia bertindak kejam terhadap para pembesar yang dicurigainya. Akibatnya rakyat bersikap masa kurang pandai terhadap pemerintah. Ia diganti oleh Shah Husein yang alim. Ia memberi kekuasaan yang besar kepada para ulama Syi'ah yang sering memaksakan pendapatnya terhadap penganut aliran Sunni. Sikap ini membangkitkan kemarahan golongan Sunni Afghanistan, sehingga mereka berontak dan berhasil mengakhiri kekuasaan Dinasti Syafawi.

Pemberontakan bangsa Afghan tersebut terjadi pertama kali tahun 1709 M di bawah pimpinan Mir Vays yang berhasil merebut wilayah Qandahar. Pemberontakan lainnya terjadi di Heart, suku Ardabil Afghanistan berhasil menduduki Mashad. Mir Vays diganti oleh Mir Mahmud dan ia sanggup mempersatukan pasukannya dengan pasukan Ardabil, sehingga ia bisa merebut negeri-negeri Afghan dari kekuasaan Syafawi. Karena desakan dan bahaya Mir Mahmud, Shah Husein karenanya mengakui kekuasaan Mir Mahmud dan mengangkatnya menjadi gebernur di Qandahar dengan gelar Husei Quli Khan (budak Husein).

Dengan pengakuai ini, Mir Mahmud makin leluasa bergerak sehingga tahun 1721 M, ia merebut Kirman dan tak usang kemudian ia menyerang Isfahan dan memaksa Shah Husein mengalah tanpa syarat. Pada tanggal 12 Oktober 1722 M Shah Husein mengalah dan 25 Oktober Mir Mahmud memasuki kota Isfahan dengan penuh kemenangan.

Salah seorang putera Husein, berjulukan Tahmasp II, menerima pertolongan penuh dari suku Qazar dari Rusia, memproklamasikan dirinya sebagai raja yang sah dan berkuasa atas Persia dengan sentra kekuasaannya di kota Astarabad. Tahun 1726 M, Tahmasp II berafiliasi dengan Nadir Khan dari suku Afshar untuk memerangi dan mengusir bangsa Afghan yang menduduki Isfahan. Asyraf, pengganti Mir Mahmud, yang berkuasa di Isfahan digempur dan dikalahkan oleh pasukan Nadir Khan tahun 1729 M. Asyraf sendiri terbunuh dalam peperangan itu.

Dengan demikian Dinasti Syafawi kembali berkuasa. Namun, pada bulan Agustus 1732 M, Tahmasp II di pecat oleh Nadir Khan dan di gantikan oleh Abbas III (anak Tahmasp II) yang dikala itu masih sangat kecil. Empat tahun sesudah itu, tepatnya tanggal 8 Maret 1736, Nadir Khan mengangkat dirinya sebagai raja menggantikan Abbas III. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Dinasti Syafawi di Persia.

Adapun sebab-sebab kemunduran dan kehancuran kerajaan Syafawi adalah:

a. Adanya konflik yang berkepanjangan dengan kerajaan Usmani. Berdirinya kerajaan Syafawi yang bermadzhab Syi’ah merupakan bahaya bagi kerajaan Usmani, sehingga tidak pernah ada perdamaian antara dua kerajaan besar ini.

b. Terjadinya dekadensi moral yang melanda sebagian pemimpin kerajaaan Syafawi, yang juga ikut mempercepat proses kehancuran kerajaan ini. Raja Sulaiman yang pecandu narkotik dan menyenangi kehidupan malam selama tujuh tahun tidak pernah sekalipun menyempatkan diri menangani pemerintahan, begitu pula dengan sultan Husein.

c. Pasukan Ghulam (budak-budak) yang dibuat Abbas I ternyata tidak mempunyai semangat usaha yang tinggi ibarat semangat Qizilbash.
Hal ini dikarenakan mereka tidak mempunyai ketahanan mental lantaran tidak dipersiapkan secara terlatih dan tidak mempunyai bekal rohani. Kemerosotan aspek kemiliteran ini sangat besar pengaruhnya terhadap lenyapnya ketahanan dan pertahanan kerajaan Syafawi.

d. Seringnya terjadi konflik intern dalam bentuk kudeta di kalangan keluarga istana.

Demikianlah sahabat bacaan madani ulasan wacana penyebab kemajuan dan kemunduran peradaban Islam pada masa dinasty Syafawi. Semoga kita sanggup mengambil pelajaran dari pembahasan tersebut. Aamiin. Sumber Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI MA, Kementerian Agama Republik Indonesia, Jakarta 2015. Kujnjungilah selalu www.bacaanmadani.com biar bermanfaat. Aamiin.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel