10 Pola Tradisi Islam Di Nusantara (Budaya)

Melestarikan Tradisi atau Budaya Islam di Nusantara.
Tradisi ialah kebiasaan atau akhlak istiadat yang dilakukan turun temurun oleh masyarakat. Sebagaimana diketahui bahwa sebelum Islam datang, masyarakat Nusantara sudah mengenal banyak sekali kepercayaan dan mempunyai bermacam-macam tradisi lokal. Melalui kehadiran Islam maka kepercayaan dan tradisi di Nusantara tersebut membaur dan dipengaruhi nilai-nilai Islam. Karenanya muncullah tradisi Islam Nusantara sebagai bentuk akulturasi antara pedoman Islam dengan tradisi lokal Nusantara. Tradisi Islam di Nusantara dipakai sebagai metode dakwah para ulama zaman itu. Para ulama tidak memusnahkan secara total tradisi yang telah ada di masyarakat. Mereka memasukkan ajaran-ajaran Islam ke dalam tradisi tersebut, dengan keinginan masyarakat tidak merasa kehilangan akhlak dan pedoman Islam sanggup diterima.

Seni budaya, adat, dan tradisi yang bernapaskan Islam tumbuh dan berkembang di Nusantara. Tradisi ini sangat bermanfaat bagi penyebaran Islam di Nusantara. Untuk itulah, kita sebagai generasi muda Islam harus bisa merawat, melestarikan, mengembangkan dan menghargai hasil karya para ulama terdahulu.

Mengingat zaman modern kini ini ada sebagian kelompok yang mengharamkan dan ada sebagian yang menghalalkan. Mereka yang mengharamkan beralasan pada zaman Rasulullah saw. tidak pernah ada. Mereka yang membolehkan dengan dasar bahwa tradisi tersebut dipakai sebagai sarana dakwah dan tidak bertentangan dengan syariat Islam. Kita sebagai generasi penerus Islam kita harus bijaksana dalam menyikapi tradisi tersebut. Memang harus diakui ada tradisi-tradisi lokal yang tidak sesuai dengan Islam. Tradisi menyerupai ini harus kita tolak, dan buang supaya tidak ditiru oleh generasi berikutnya.

Para ulama dan wali pada zaman dahulu tentu telah mempertimbangkan tradisi-tradisi tersebut dengan sangat matang baik dari segi madharatmafsadat maupun halal-haramnya. Mereka sangat paham aturan agama, sehingga mustahil mereka membuat tradisi tanpa pertimbanganpertimbangan tersebut.

Banyak sekali tradisi atau budaya Islam yang berkembang hingga ketika ini. Semuanya mencerminkan kekhasan daerah atau tempat masingmasing. Berikut ini ialah beberapa tradisi atau budaya Islam dimaksud.

1. Tradisi Halal Bihalal.
Halal bihalal dilakukan pada Bulan Syawal, berupa program saling bermaaf-maafan. Setelah umat Islam selesai puasa ramadhan sebulan penuh maka dosa-dosanya telah diampuni oleh Allah Swt. Namun, dosa kepada sesama insan belum akan diampuni Allah Swt. kalau belum mendapat kehalalan atau dimaafkan oleh orang tersebut. Oleh alasannya itu tradisi halal bihalal dilakukan dalam rangka saling memaafkan atas dosa dan kesalahan yang pernah dilakukan biar kembali kepada !trah (kesucian). Tradisi ini erat kaitannya dengan perayaan Idul Fitri.

Tujuan halal bihalal selain saling bermaafan ialah untuk menjalin tali silaturahim dan mempererat tali persaudaraan. Sampai ketika ini tradisi ini masih dilakukan di semua lapisan masyarakat. Mulai keluarga, tingkat RT hingga istana kepresidenan. Bahkan program halal bihalal sudah menjadi tradisi nasional yang bernafaskan Islam.

Istilah halal bihalal berasal dari bahasa Arab (halla atau halal) tetapi tradisi halal bi halal itu sendiri ialah tradisi khas bangsa Indonesia, bukan berasal dari Timur Tengah. Bahkan bisa jadi ketika arti kata ini ditanyakan kepada orang Arab, mereka akan kebingungan dalam menjawabnya.

Halal bihalal sebagai sebuah tradisi khas Islam Indonesia lahir dari sebuah proses sejarah. Tradisi ini digali dari kesadaran batin tokoh-tokoh umat Islam masa kemudian untuk membangun relasi yang serasi (silaturahim) antar umat. Dengan program halal bihalal, pemimpin agama, tokoh-tokoh masyarakat dan pemerintah akan berkumpul, saling berinteraksi dan saling bertukar informasi. Dari komunikasi ini akan mempererat kekeluargaan dan sanggup menuntaskan banyak sekali dilema yang ada. Pada program halal bihalal semua orang mengucapkan mohon maaf lahir dan batin. Hal ini mengandung maksud bahwa ketika secara lahir telah memaafkan yang ditandai dengan berjabat tangan atau mengucapkan kata maaf, maka batinnya juga harus dengan nrimo memaafkan dan tidak lagi tersisa rasa dendam dan sakit hati.

2. Tradisi Tabot atau Tabuik.
Tabot atau Tabuik, ialah upacara tradisional masyarakat Bengkulu untuk mengenang cerita kepahlawanan dan janjkematian Hasan dan Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad saw. Kedua cucu Rasulullah saw. ini gugur dalam peperangan di Karbala, Irak pada tanggal 10 Muharam 61 Hijriah (681 M). Perayaan di Bengkulu pertama kali dilaksanakan oleh Syaikh Burhanuddin yang dikenal sebagai Imam Senggolo pada tahun 1685. Syaikh Burhanuddin menikah dengan perempuan Bengkulu kemudian keturunannya disebut sebagai keluarga Tabot. Upacara ini dilaksanakan dari 1 hingga 10 Muharram (berdasar kalendar Islam) setiap tahun.

Istilah Tabot berasal dari kata Arab, “tabut”, yang secara har!ah berarti kotak kayu atau peti. Tidak ada catatan tertulis semenjak kapan upacara Tabot mulai dikenal di Bengkulu. Namun, diduga besar lengan berkuasa tradisi ini dibawa oleh para tukang yang membangun Benteng Marlborought (1718-1719) di Bengkulu. Para tukang bangunan tersebut, didatangkan oleh Inggris dari Madras dan Bengali di bab selatan India.

3. Tradisi Kupatan (Bakdo Kupat)
Di Pulau Jawa bahkan sudah berkembang ke daerah-daerah lain terdapat tradisi kupatan. Tradisi membuat kupat ini biasanya dilakukan seminggu sehabis hari raya Idul Fitri. Biasanya masyarakat berkumpul di suatu tempat menyerupai mushala dan masjid untuk mengadakan selamatan dengan hidangan yang didominasi kupat (ketupat). Kupat merupakan masakan yang terbuat dari beras dan dibungkus anyaman (longsong) dari janur kuning (daun kelapa yang masih muda). Sampai ketika ini ketupat menjadi maskot Hari Raya Idul Fitri.

Ketupat memang sebagai masakan khas lebaran. Makanan itu ternyata bukan sekadar sajian pada hari kemenangan, tetapi punya makna mendalam dalam tradisi Jawa. Oleh para Wali, tradisi membuat kupat itu dijadikan sebagai sarana untuk syiar agama. Oleh sebagian besar masyarakat, kupat juga menjadi abreviasi atau di-jarwo dhosok-kan menjadi rangkaian kata yang sesuai dengan momennya yaitu Lebaran. Kupat ialah abreviasi dari ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan menjadi simbol untuk saling memaafkan.

4. Tradisi Sekaten di Surakarta dan Yogyakarta.
Tradisi Sekaten dilaksanakan setiap tahun di Keraton Surakarta Jawa Tengah dan Keraton Yogyakarta. Tradisi ini dilaksanakan dan dilestarikan sebagai wujud mengenang jasa-jasa para Walisongo yang telah berhasil berbagi Islam di tanah Jawa. Peringatan yang lazim dinamai Maulud Nabi itu, oleh para wali disebut Sekaten, yang berasal dari kata Syahadatain (dua kalimat Syahadat). Tradisi ini sebagai sarana penyebaran agama Islam yang pada mulanya dilakukan oleh Sunan Bonang. Dahulu setiap kali Sunan Bonang membunyikan gamelan diselingi dengan lagu-lagu yang berisi pedoman agama Islam serta setiap pergantian pukulan gamelan diselingi dengan membaca syahadatain.

Jadi, Sekaten diadakan untuk melestarikan tradisi para wali dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw. Sebagai tuntunan bagi umat manusia, diperlukan masyarakat yang tiba ke Sekaten juga mempunyai motivasi untuk mendapat berkah dan meneladani Nabi Muhammad saw.

Dalam upacara Sekaten tersebut disuguhkan gamelan pusaka peninggalan dinasti Majapahit yang telah dibawa ke Demak. Suguhan ini sebagai membuktikan bahwa dalam berdakwah para wali mengemasnya dengan menjalin kedekatan kepada msyarakat.

5. Tradisi Grebeg.
Tradisi untuk mengiringi para raja atau pembesar kerajaan. Grebeg pertama kali diselenggarakan oleh keraton Yogyakarta oleh Sultan Hamengkubuwono ke-1. Grebeg dilaksanakan ketika Sultan mempunyai hajat dalem berupa menikahkan putra mahkotanya. Grebek di Yogyakarta di selenggarakan 3 tahun sekali yaitu:

Pertama grebek pasa-syawal diadakan setiap tanggal 1 Syawal bertujuan untuk menghormati Bulan Ramadhan dan Lailatul Qadr.

Kedua grebeg besar, diadakan setiap tanggal 10 dzulhijjah untuk merayakan hari raya kurban.

Ketiga grebeg maulud setiap tanggal 12 Rabiul awwal untuk memperingati hari Maulid Nabi Muhammad saw. Selain kota Yogyakarta yang menyelenggarakan pesta grebeg ialah kota Solo, Cirebon dan Demak.

6. Tradisi Grebeg Besar di Demak
Tradisi Grebeg Besar merupakan upacara tradisional yang setiap tahun dilaksanakan di Kabupaten Demak Jawa Tengah. Tradisi ini dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah bertepatan dengan datangnya Hari Raya Idul Adha atau Idul Kurban. Tradisi ini cukup menarik alasannya Demak merupakan sentra usaha Walisongo dalam dakwah.

Pada awalnya Grebeg Besar dilakukan tanggal 10 Dzulhijjah tahun 1428 Caka dan dimaksudkan sekaligus untuk memperingati genap 40 hari pelantikan penyempurnaan Masjid Agung Demak. Mesjid ini didirikan oleh Walisongo pada tahun 1399 Caka, bertepatan 1477 Masehi. Tahun berdirinya masjid ini tertulis pada bab Candrasengkala “Lawang Trus Gunaning Janmo”.

Pada tahun 1428 tertulis dalam Caka tersebut Sunan Giri meresmikan penyempurnaan masjid Demak. Tanpa diduga pengunjung yang hadir sangat banyak. Kesempatan ini kemudian dipakai para Wali untuk melaksanakan dakwah Islam. Jadi, tujuan semula Grebeg Besar ialah untuk merayakan Hari Raya Kurban dan memperingati pelantikan Masjid Demak.

7. Tradisi Kerobok Maulid di Kutai dan Pawai Obor di Manado.
Di daerah Kedaton Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur, juga diselenggarakan tradisi yang dinamakan Kerobok Maulid. Istilah Kerobok berasal dari Bahasa Kutai yang artinya berkerubun atau berkerumun oleh orang banyak. Tradisi Kerobok Maulid dipusatkan di halaman Masjid Jami’ Hasanuddin, Tenggarong. Tradisi ini dilaksanakan dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw., tanggal 12 Rabiul Awwal.

Kegiatan Kerobok Maulid ini diawali dengan pembacaan Barzanji di Masjid Jami’ Hasanudin Tenggarong. Kemudian dari Keraton Sultan Kutai, puluhan prajurit Kesultanan akan keluar dengan membawa usung-usungan yang berisi masakan ringan anggun tradisional, puluhan bakul Sinto atau bunga rampai dan Astagona.

Usung-usungan ini kemudian dibawa berkeliling antara Keraton dan Kedaton Sultan dan berakhir di Masjid Jami’ Hasanuddin. Kedatangan prajurit keraton dengan membawa Sinto, Astagona dan kue-kue di Masjid Hasanudin ini akan disambut dengan pembacaan Asrakal yang kemudian membagi-bagikannya kepada warga masyarakat yang ada di dalam Masjid. Akhir dari upacara Kerobok ini ditandai dengan penyampaian hikmah maulid oleh seorang ulama.

Lain di Kutai lain pula di Manado. Untuk memperingati Maulid nabi Muhammad saw. warga muslim di Kota Manado, Sulawesi Utara, menggelar tradisi pawai obor. Obor yang dibawa berpawai oleh ribuan warga membuat jalan-jalan di Kota Manado terang. Bagi warga muslim setempat pawai obor sudah jadi tradisi dan dilaksanakan turuntemurun sebagai simbol penerangan. Lebih lanjut simbol penerangan itu bermakna bahwa kelahiran Nabi Muhammad saw. ialah membawa pedoman yang menjadi cahaya penerang iman ketika insan hidup dalam kegelapan dan kemusyrikan.

8. Tradisi Rabu Kasan di Bangka.
Tradisi Rabu Kasan dilaksanakan di Kabupaten Bangka setiap tahun, tepatnya pada hari rabu terakhir bulan Safar. Hal ini sesuai dengan namanya, yakni Rabu Kasan berasal dari Kara Rabu Pungkasan (terakhir).

Upacara Rabu Kasan sesungguhnya tidak hanya dilakukan di Bangka saja, tetapi juga di daerah lain, menyerupai di Bogor Jawa Barat dan Gresik Jawa Timur. Pada dasarnya maksud dari tradisi ini sama, yaitu untuk memohon kepada Allah Swt. biar dijauhkan dari bala’ (musibah dan bencana).

Di Kabupaten Bangka, tradisi ini dipusatkan di desa Air Anyer, Kecamatan Merawang. Sehari sebelum upacara Rabu Kasan di Bangka diadakan, semua penduduk telah menyiapkan segala keperluan upacara tersebut menyerupai ketupat tolak balak, air wafak, dan masakan untuk dimakan bersama pada hari Rabu esok hari.

Tepat pada hari Rabu Kasan, kira-kira pukul 07.00 WIB semua penduduk telah hadir di tempat upacara dengan membawa masakan dan ketupat tolak bala sebanyak jumlah keluarga masing-masing.

Acara diawali dengan berdirinya seseorang di depan pintu masjid dan menghadap keluar kemudian mengumandangkan adzan. Lalu disusul dengan pembacaan doa bersama-sama. Selesai berdoa semua yang hadir menarik atau melepaskan anyaman ketupat tolak balak yang telah tersedia tadi, satu persatu berdasarkan jumlah yang dibawa sambil menyebut nama keluarganya masing-masing.

Kemudian dilanjutkan dengan program makan bersama. Setelah itu, masing-masing pergi mengambil air wafak yang telah disediakan untuk semua angngota keluarganya. Setelah selesai program ini mereka pulang dan bersilahturahmi ke rumah tetangga atau keluarganya.

9. Tradisi Dugderan di Semarang.
Tradisi dugderan merupakan tradisi khas yang dilakukan oleh masyarakat Semarang, Jawa Tengah. Tradisi Dugderan dilakukan untuk menyambut datangnya bulan puasa. Dugderan biasanya diawali dengan pemberangkatan akseptor karnaval dari Balaikota Semarang.

Ritual dugderan akan dilaksanakan sehabis shalat Asar yang diawali dengan musyawarah untuk memilih awal bulan bulan ampunan yang diikuti oleh para ulama. Hasil musyawarah itu kemudian diumumkan kepada khalayak. Sebagai tanda dimulainya berpuasa dilakukan pemukulan bedug. Hasil musyawarah ulama yang telah dibacakan itu kemudian diserahkan kepada Kanjeng Gubernur Jawa Tengah. Setelah itu Kanjeng Bupati Semarang (Walikota Semarang) dan Gubernur bahu-membahu memukul bedug kemudian diakhiri dengan doa.

10. Tradisi atau Budaya Tumpeng.
Tumpeng ialah cara penyajian nasi beserta lauk-pauknya dalam bentuk kerucut. Nasi tumpeng umumnya berupa nasi kuning, atau nasi uduk. Cara penyajian nasi ini khas Jawa atau masyarakat Betawi keturunan Jawa, dan biasanya dibentuk pada ketika kenduri atau perayaan suatu peristiwa penting. Meskipun demikian, budaya tumpeng sudah menjadi tradisi nasional bangsa Indonesia. Tumpeng biasa disajikan di atas tampah (wadah tradisional) dan dialasi daun pisang. Ada tradisi tidak tertulis yang menganjurkan bahwa pucuk dari kerucut tumpeng dihidangkan bagi orang yang dituakan dari orang-orang yang hadir. Ini dimaksudkan untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang tersebut. Saat ini budaya tumpeng sudah menjadi tradisi nasional bangsa Indonesia.

Demikianlah sahabat bacaan madani ulasan perihal 10 teladan tradisi atau budaya Islam di nusantara.  Sumber Buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Sekolah Menengah Pertama Kelas IX, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia 2015. Kunjungilah selalu www.bacaanmadani.com semoga bermanfaat. Aamiin.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel